Satu per satu kutapaki anak tangga yang akan membawaku pergi. Semakin aku melangkah, rasanya semakin ringan, karena ku tau rasa sakit ini akan segera hilang. Kakiku melangkah perlahan. Seperti kilasan sebuah film, otakku memutar kembali kenangan yang pernah kulalui bersamamu.
*****
Satu minggu terakhir ini kulalui bagai mimpi, aku tersenyum di saat hatiku menangis menjerit menahan rasa sakit. Aku seolah hidup seperti robot, mengikuti kemanapun aku diminta. Aku seolah kehilangan semua harapanku, minatku, keinginanku, bahkan mimpiku.
Sekelilingku memang masih sama, berusaha tetap menjadi penopang dan tempat berbagi untukku. Namun hal itu tidak pernah sama untukku. Waktu seolah melambat tanpa kehadirannya. Di setiap saat kesendirianku, aku harus meringkuk memegangi dadaku. Rasanya hati ini akan hancur jika tidak kupertahankan. Aku tau kematian adalah takdir yang sudah digariskan, namun penerimaan itu begitu sulit untuk kulakukan. Kenapa di saat kami hampir tak terpisahkan?
Kecelakaan itu meruntuhkan semua harapan indahku. Kenapa aku tidak ikut mati bersamamu? Kenapa kau selamatkan aku saat aku bisa mati bersamamu? Kenapa kau justru jerumuskan aku kepada kematian yang lain? Aku hidup, namun jiwaku seakan sekarat.
*****
Satu bulan yang lalu kita masih bahagia, mempersiapkan hari dimana kita bukanlah dua melainkan satu. Meski pertengkaran kecil terjadi di antara kita, tapi itu karena kita masing-masing ingin yang terbaik dan yang tak terlupakan di hari bahagia kita.
Banyak hal yang kita tidak sependapat. Hal-hal kecilpun begitu sulit bagi kita untuk mendapatkan kata setuju. Tapi inilah kita, selalu harus bertengkar dulu sebelum saling mengalah. Tapi harusnya kau akui, bahwa akulah yang lebih sering mengalah. Bagaimana, kau sebagai lelaki malah ingin menang sendiri?
Kebahagiaan ini begitu luar biasa, membuat setiap hariku terasa lebih indah untuk dijalani. Berbagai rencana indah sudah menanti untuk dijalankan. Inilah cinta, cinta yang berhasil menemukan cinta yang lain.
*****
Satu tahun yang lalu, hari dimana kau mengungkapkan niatmu untuk menjadikanku wanita yang paling sempurna, membuatku menjadi wanita yang paling berharga.
Masih kuingat dengan jelas di pikiranku, kau memang bukan lelaki yang romantis, bahkan hari itu pun kau masih saja tidak bisa menjadi romantis. Susahkah untuk romantis satu hari saja? Aku hampir tak bisa menahan tawa akan caramu. Bayangan keindahan yang selama ini kulihat di video-video, itu sangat jauh berbeda dengan caramu. Aku tau kau berusaha, tapi sepertinya sangat tidak cocok untukmu. Bukan romantis malah menjadi lucu bagiku.
Namun, ketulusanmu meluluhkanku, ku yakin kau bisa menjadi pendamping yang sempurna untukku. Bukankah sesuatu yang tidak sempurna jika disatukan akan saling melengkapi? Ya, kau dan aku memang memiliki kekurangan masing-masing, tapi itulah yang akan menjadi pelengkap dalam kehidupan kita ke depannya nanti. Hanya satu yang ingin kukatakan padamu, “Terima kasih, di antara sekian banyak wanita kau memilihku.”
*****
Akhirnya aku tiba di sini, berada begitu dekat dengan langit. Kutatap bintang yang rasanya begitu dekat, kuangkat jariku ke langit malam ini, kutuliskan namamu dan namaku di sana. Tunggu aku, aku datang.
Seringan kapas, aku melayang, terbang, bersama angin malam yang membawaku kepadamu. Sentakan rasa sakit menghantam seluruh tubuhku, namun dalam hitungan detik semanya seolah hilang lenyap tanpa sisa. Kemudian yang tertinggal hanya cahaya. Putih.
*****
Berita pagi ini begitu tragis, seorang wanita tewas terjatuh dari atap gedung apartemennya dengan mengenakan pakaian pengantin, tepat di hari dimana seharusnya sang wanita menikah dengan kekasihnya yang telah lebih dahulu meninggalkannya karena kecelakaan lalu lintas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar